SEJARAH PEKABARAN INJIL (PI) DI JEMAAT GKI SOLAGRATIA MARAU
Refleksi
Perjalanan Sejarah Injil Di Kampung Marau
(Marau,
Juli 1924 – April
1928)
Pada bulan Juli 1924 tibalah seorang teman kerja yang baru, sehingga
Zendeling Bout memindahkan Laurens Tanamal ke Mariadei. Pada tempat ini harus
di bangun sekolah dan seluruh kehidupan jemaat. Jarak antara Mariadei dan Serui
dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 45 menit. Kami pun segera
mengunjungi Mariadei dan melihat-lihat tempatnya. Pada mulanya belum ada rumah
untuk ditempati sehingga Laurens Tanamal harus berjalan kaki pergi pulang
setiap hari. Hal itu Laurens Tanamal jalani selama tiga bulan.
Setelah tiga bulan menyibukan diri dengan kegiatan pelayanan di
Mariadei, maka Laurens Tanamal meminta cuti ke Ambon, dengan harapan bahwa
setelah cuti Laurens Tanamal dan keluarga dapat kembali ke Mariadei untuk
meneruskan pelayananan di sana. Namun harapan itu tidak menjadi kenyataan,
sebab apa yang terjadi lain sekali daripada yang mereka pikirkan dari bayangkan
sebelumnya. Seperti ada tertulis : “ Pikiranmu bukanlah pikiran-Ku dan jalanmu
bukanlah jalan-Ku” Kata-kata itu benar berlaku bagi Laurens Tanamal.
Ketika kapal yang Laurens Tanamal dan Keluarga tumpangi setelah cuti
dalam pelayaran menuju serui menyinggahi kampung Wooi, ternyata Zendeling Bout
ada disana. Laurens Tanamal mencari Zendeling Bout dikapal dan Zendeling Bout
meminta supaya Laurens Tanamal Turun di Wooi karena harus membuka pelayanan di
kampung Marau. Laurens Tanamal sangat terkejud setelah mendengar tugas yang
diberikannya itu. Dengan susah payah dan dengan harga diri yang mahal Laurens
Tanamal telah membangun dan seringkali Laurens Tanamal harus memulainya dari
permulaan. Istri (nyora) dari Laurens Tanamal mulai memberontak dan marah
terhadap Zendeling Bout. Tetapi Laurens Tanamal berbicara kepada isterinya
dengan jiwa besar : Kita jangan terlalu banyak bicara dan marah. Apabila hal
ini adalah pekerjaan manusia atau pekerjaan zendeling saja maka kita boleh marah kepadanya. Tetapi sudah tentu ini adalah
pekerjaan Allah. Sebab pada dasarnya bukan zendeling tetapi Allah lah yang
telah mengutus kita kesini. Setelah mengembalakan isterinya maka isterinya
tidak marah lagi dan mereka segera mengemasi barang-barang dan turun dari
kapal. Ternyata mereka sudah ditunggu oleh penduduk marau untuk segera dihentar
ke kampung Marau.
Ketika tiba di Marau pada Tanggal, 05 Oktober 1924, tidak ada rumah,
untuk sementara mereka menggunakan Rumah Pos. Kampung ini ternyata kurang
tertib dan teratur. Tidak ada peraturan yang bisa mengatur keadaan setempat.
Penduduknya tidak tinggal disatu tempat melainkan terpencar-pencar disana-sini.
Kegiatan pelayanan di Marau amat lebih sukar dari pada ketika mereka mulai
bekerja di Serui.
Dengan penuh hati-hati dan kesabaran ia memulai pekerjaan pelayanan di
Marau. Di kala merasa kesepian dalam menghadapi kesulitan yang besar, Dia
selalu menghibur diri sendiri dengan kata-kata dari Tuhan Yesus : “ Aku tidak
akan membiarkan kamu sendirian”. Dia banyak berdoa agar tetap bertahan, dan
agar memperoleh kekuatan bagi pekerjaan dia, sehingga pekerjaan pelayanan ini
biarlah menurut kehendak Tuhan Sang Gembala Agung yang telah mengutusnya ke
Marau.
Satu hal yang menggembirakan ialah dalam kesukaran yang dia hadapi,
ternyata selalu dihiburkan oleh orang-orang dimana dia sekarang bekerja di
antara mereka. Dengan pertolongan dan kerjasama yang besar dari penduduk dalam
tempo tiga bulan saja mereka berhasil membangun sebuah rumah tinggal yang
memadai dan sekaligus sebuah gedung sekolah dan berfungsi sebagai tempat
kebaktian. Dan tahun-tahun berikutnya Laurens Tanamal dan penduduk masih
membangun beberapa bangunan yang baik.
Dari pelayanan yang baik, maka warga jemaat yang terpencar semua
berkumpul dan membangun rumah disekitar Gereja dan Sekolah. Kemudian mereka
membangun Gereja dan Sekolah yang permanen. Setelah pekerjaan usai maka Laurens
Tanamal Jatuh Sakit yang berat,pada mulanya sakit malaria, tetapi lama kelamaan
kesakitannya semakin parah dengan demam kencing hitam. Dan pada akhirnya dia
sembuh dari sakit penyakit oleh karena Kuasah Tuhan Yesus.
Pada tahun 1927 KPS dari Serui melakukan kunjungan kerja ke Marau.
Ketika KPS melihat gedung sekolah dan Gedung Gereja yang bagus itu, maka ia
segera menawarkan kepada Laurens Tanamal untuk membangun semua Rumah Pos yang
baru. Laurens Tanamal mengatakan kepada mereka bahwa untuk hal itu harus
diadakan pembicaraan dengan Zendeling Bout jika ia tidak keberatan.
Kelihatannya bahwa Zendeling Bout pun menyetujui rencana tersebut, dan beberapa
lama pekerjaan itu pun berlangsung. Dalam bulan Juli 1927 bangunan Rumah Pos
yang baru itu pun rampung dan KPS sangat tertarik dengannya. Dan bertepatan
dengan peringatan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada tanggal 31
Agustus 1927 atas nama Residen di Ternate, menyatakan rasa terima kasih kepada
Laurens Tanamal.
Ketika itu Zendeling Van Hasselt sedang cuti ke pulau Jawa, Dia Menulis
surat kepadanya, dimana di dalamnya saya bertanya : “Bagaimana mungkin bahwa sementara Tuan
memindahkan saya ke Serui untuk tinggal dan bekerja disana, tetapi Zendeling
Bout menyuruh lagi untuk mulai membuka suatu pekerjaan baru. Kadang Laurens
Tanamal merasa tidak enak dengan hal ini, karena cara seperti ini dia tidak
mendapatkan suatu tempat tugas yang pasti”.
Beberapa waktu kemudian Laurens Tanamal menerima jawaban dari Van
Hasselt, di mana ia antara lain menulis : “Guru yang baik hati, yang menyuruh
kau pergi bukanlah tuan Bout, tetapi yang menyuruh kau adalah Tuhan sendiri.
Justru itu adalah talenta yang Tuhan berikan kepadamu, supaya dengannya kau
dapat mempergunakan sebaik-baiknya untuk melayani orang lain. Pujilah Tuhan
dengan segenap hatimu melalui lagu ini :
“Apa yang Tuhan buat adalah baik semuanya,
Kehendak-Nya
adalah bijaksana dan kudus
Percayakanlah
jalanmu pada bimbingan tangan-Nya,
Dan dalam
kesusahan, Ia adalah harapanku
Ya, Dia
adalah Tuhan di atas segala tuan,
Kebijaksanaan-Nya
dalam memerintah kekal selamanya”.
Surat ini melunakan hatinya, dan pada bulan Januari 1928 Laurens Tanamal
menerima sepucuk surat dari Zending Bout, Ia menjelaskan kepada Laurens Tanamal
supaya mempersiapkan diri untuk pindah ke kampung Kurudu, karena kampung Kurudu
harus dibuka. Dalam hati Laurens Tanamal tidak merasa keberatan kerana Tuhan
yang memanggil dan mengutusnya, sebab itu ia menerima dengan damai sejahtera.
Tetapi lain halnya dengan Nyora. Ketika ia membaca surat itu ia sama sekali
tidak dapat menerima rencana kepindahan ini. Ia berkata kepada saya “ Guru, kau
pergi saja sendirian ke Kurudu, saya tinggal disini dengan orang-orang di Marau
“. Ketika ia mengucapkan kata-kata itu sama sekali tidak ada pikiran yang aneh
dalam diri Laurens Tanamal tentang kemungkinan lain yang akan terjadi dengan
isterinya. Setiap kali ia mengajak isterinya bertukar pikiran tentang rencana
kepindahan itu, ia selau saja memberikan jawaban yang sama : “ Saya tidak pergi
besertamu” saya belum memberikan harapan sepenuhnya, karena saya telah
memutuskan untuk pergi bersama-sama dengan isteri saya ke tempat tugas yang
baru.
Pada saat itu nyora sedang mengandung dan dalam bulan Februari sudah ada
tanda-tanda mendekatnya hari untuk nyora melahirkan. Hal mana membuat mereka
juga merasa tidak tenang. Pada jam empat pagi nyora melahirkan seorang anak
laki-laki. Semuanya berlangsung dengan baik. Tetapi setengah Jam kemudian kelihatannya
nyora pucat dan tidak mengatakan sesuatu lagi. Kata-kata terakhir yang Laurens
Tanamal dengar dari Nyora adalah : Apakah yang terjadi sekarang dengan saya ?”
Lima menit kemudian ia telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, Laurens
tidak dapat melakukan sesuatu tindakan apapun untuk membantu isteri
tercintanya.
Sesudah menguburkan nyora di marau, Laurens Tanamal menulis sepucuk
surat kepada Zendeling Bout dan memberitahukan kepadanya bahwa pada Tanggal 17
Februari 1928 isterinya telah meninggal dunia. Dan Zendeling Bout menyurati
Laurens Tanamal tentang rencana selanjutnya, namun Laurens Tanamal menjawab
Surat tuan Bout “ Janganlah kiranya hal itu menjadi rintangan atas panggilan
Tuhan, seperti ada tertulis dalam Injil Lukas 9 : 60 : “Biarlah orang mati
menguburkan orang mati, tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Injil Kerajaan
Allah dimana-mana”. Oleh sebab itu, Laurens Tanamal dengan tegas menyatakan
bahwa ia akan segera pergi ke Kurudu untuk membuka pelayanan disana.
Kemudian Laurens Tanamal memesan satu tong semen dan mengubur kuburan
dari sang isteri tercintanya. Dan sesudah itu Laurens Tanamal mengantar anaknya
yang baru lahir itu, bersama anak perempuannya kakak dari bayi yang baru lahir
itu, kepada seorang familynya yang bertugas sebagai Guru di Ansus dan
menitipkan mereka di sana.
Lalu pada tanggal, 20 April 1928 Laurens tanamal berangkat ke Kurudu,
Namun belum sampai satu setengah tahun bulan disana, Laurens Tanamal menerima
sepucuk surat dari Zendeling Bout dimana Ia memintah ia segera berangkat ke
Ansus karena anaknya yang masih bayi sedang sakit. Ia pun berangkat ke Ansus.
Setelah beberapa hari disana anak kecil itu pun meninggal dunia. Semuanya ini
membuat hatinya sangat sedih. Empat orang anak dan isterinya sudah harus
ditinggalkan. Dua orang anaknya meninggal ketika bertugas di Nunfor, satu di
Marau di mana ibunya turut dikuburkan disitu, dan sekarang satu lagi di Ansus.
Sekalipun demikian semua kejadian ini tidak menjadi alasan baginya untuk
mengundurkan diri dari pekerjaan Allah, sebaliknya ia semakin teguh berpegang
pada perintah Allah.
Setelah pemakaman anak terkasihnya, Laurens tanamal segera berangkat
kembali ke Kurudu dengan membawah serta saudara perempuan yang masih kecil.
Mereka berdualah yang membantu Laurens Tanamal dalam segala urusan di Kurudu
ketika memulai pekerjaan disana.
“Nama di atas segala nama” Supaya suatu ketika semua jiwa dari tanah
yang besar ini menjadi milik Tuhan kita sebelum tiba hari besar di mana Ia akan
kembali. Sekarang kita masih hidup di bawah pengampunan dan kesabaran hilang.
Ingatlah pada waktu lampau, berharaplah pada masa depan dari kerajaan Allah,
karena untuk itu kita semua tidak ada jalan lain”.
Jika aku semakin lelah di
jalanku,
Semakin tinggi pula
jalanku.
Di mana duri-duri tajam
bertumbuh,
Di sana tidak ada jalan
lain. Kami mengikuti Dia terus .
Seperti domba mengikuti
gembalanya, Melintasi semak
belukar dan pagar berduri. (Gezang 217:3)
Tambahan;
Selamat Merayakan HUT (Hari Ulang Tahun) PI (Pekabaran Injil) di Kampung
Marau yang Ke-95 th. Pesan Moral “BUKANLAH SUATU
KEBETULAN LAURENTS TANAMAL MEMBAWA
INJIL KE TANAH INI (MARAU) YANG
MERUPAKAN TEMPAT PILIHAN ALLAH, OLEH
SEBAB ITU. “ MARILAH KITA SUJUD MENYEMBAH KEPADA TUHAN
DAN BEKERJA JUJUR DI TANAH INI. SAYA MENGAJAK SEMUA UMAT TUHAN UNTUK TETAP MENJAGA KAMPUNG MARAU, TANAH YANG DIBERKATI DAN TANAH PILIHAN
ALLAH ”.
Sekian….!!!
Refleksi; Wempi Wombaibabo & Hengky
Wombaibabo
Publikasih; Pacejalbo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
====PERHATIAN===
* Gunakan kata-kata yang baik dan sopan
* Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan kekerasan dilarang keras
* Dilarang Anonymous dan SPAM ! Berkomentarlah yang berkualitas