Kamis, 03 Oktober 2019

REFLEKSI PERJALANAN SEJARAH INJIL DI KAMPUNG MARAU

SEJARAH PEKABARAN INJIL (PI) DI JEMAAT GKI SOLAGRATIA MARAU

Laurens Tanamal




Refleksi Perjalanan Sejarah Injil Di Kampung Marau 
(Marau, Juli 1924 April 1928)


Pada bulan Juli 1924 tibalah seorang teman kerja yang baru, sehingga Zendeling Bout memindahkan Laurens Tanamal ke Mariadei. Pada tempat ini harus di bangun sekolah dan seluruh kehidupan jemaat. Jarak antara Mariadei dan Serui dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 45 menit. Kami pun segera mengunjungi Mariadei dan melihat-lihat tempatnya. Pada mulanya belum ada rumah untuk ditempati sehingga Laurens Tanamal harus berjalan kaki pergi pulang setiap hari. Hal itu Laurens Tanamal jalani selama tiga bulan.


Setelah tiga bulan menyibukan diri dengan kegiatan pelayanan di Mariadei, maka Laurens Tanamal meminta cuti ke Ambon, dengan harapan bahwa setelah cuti Laurens Tanamal dan keluarga dapat kembali ke Mariadei untuk meneruskan pelayananan di sana. Namun harapan itu tidak menjadi kenyataan, sebab apa yang terjadi lain sekali daripada yang mereka pikirkan dari bayangkan sebelumnya. Seperti ada tertulis : “ Pikiranmu bukanlah pikiran-Ku dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” Kata-kata itu benar berlaku bagi Laurens Tanamal.
 Ketika kapal yang Laurens Tanamal dan Keluarga tumpangi setelah cuti dalam pelayaran menuju serui menyinggahi kampung Wooi, ternyata Zendeling Bout ada disana. Laurens Tanamal mencari Zendeling Bout dikapal dan Zendeling Bout meminta supaya Laurens Tanamal Turun di Wooi karena harus membuka pelayanan di kampung Marau. Laurens Tanamal sangat terkejud setelah mendengar tugas yang diberikannya itu. Dengan susah payah dan dengan harga diri yang mahal Laurens Tanamal telah membangun dan seringkali Laurens Tanamal harus memulainya dari permulaan. Istri (nyora) dari Laurens Tanamal mulai memberontak dan marah terhadap Zendeling Bout. Tetapi Laurens Tanamal berbicara kepada isterinya dengan jiwa besar : Kita jangan terlalu banyak bicara dan marah. Apabila hal ini adalah pekerjaan manusia atau pekerjaan zendeling saja maka kita boleh  marah kepadanya. Tetapi sudah tentu ini adalah pekerjaan Allah. Sebab pada dasarnya bukan zendeling tetapi Allah lah yang telah mengutus kita kesini. Setelah mengembalakan isterinya maka isterinya tidak marah lagi dan mereka segera mengemasi barang-barang dan turun dari kapal. Ternyata mereka sudah ditunggu oleh penduduk marau untuk segera dihentar ke kampung Marau.
 Ketika tiba di Marau pada Tanggal, 05 Oktober 1924, tidak ada rumah, untuk sementara mereka menggunakan Rumah Pos. Kampung ini ternyata kurang tertib dan teratur. Tidak ada peraturan yang bisa mengatur keadaan setempat. Penduduknya tidak tinggal disatu tempat melainkan terpencar-pencar disana-sini. Kegiatan pelayanan di Marau amat lebih sukar dari pada ketika mereka mulai bekerja di Serui.
 Dengan penuh hati-hati dan kesabaran ia memulai pekerjaan pelayanan di Marau. Di kala merasa kesepian dalam menghadapi kesulitan yang besar, Dia selalu menghibur diri sendiri dengan kata-kata dari Tuhan Yesus : “ Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian”. Dia banyak berdoa agar tetap bertahan, dan agar memperoleh kekuatan bagi pekerjaan dia, sehingga pekerjaan pelayanan ini biarlah menurut kehendak Tuhan Sang Gembala Agung yang telah mengutusnya ke Marau.

Satu hal yang menggembirakan ialah dalam kesukaran yang dia hadapi, ternyata selalu dihiburkan oleh orang-orang dimana dia sekarang bekerja di antara mereka. Dengan pertolongan dan kerjasama yang besar dari penduduk dalam tempo tiga bulan saja mereka berhasil membangun sebuah rumah tinggal yang memadai dan sekaligus sebuah gedung sekolah dan berfungsi sebagai tempat kebaktian. Dan tahun-tahun berikutnya Laurens Tanamal dan penduduk masih membangun beberapa bangunan yang baik.
 Dari pelayanan yang baik, maka warga jemaat yang terpencar semua berkumpul dan membangun rumah disekitar Gereja dan Sekolah. Kemudian mereka membangun Gereja dan Sekolah yang permanen. Setelah pekerjaan usai maka Laurens Tanamal Jatuh Sakit yang berat,pada mulanya sakit malaria, tetapi lama kelamaan kesakitannya semakin parah dengan demam kencing hitam. Dan pada akhirnya dia sembuh dari sakit penyakit oleh karena Kuasah Tuhan Yesus.
 Pada tahun 1927 KPS dari Serui melakukan kunjungan kerja ke Marau. Ketika KPS melihat gedung sekolah dan Gedung Gereja yang bagus itu, maka ia segera menawarkan kepada Laurens Tanamal untuk membangun semua Rumah Pos yang baru. Laurens Tanamal mengatakan kepada mereka bahwa untuk hal itu harus diadakan pembicaraan dengan Zendeling Bout jika ia tidak keberatan. Kelihatannya bahwa Zendeling Bout pun menyetujui rencana tersebut, dan beberapa lama pekerjaan itu pun berlangsung. Dalam bulan Juli 1927 bangunan Rumah Pos yang baru itu pun rampung dan KPS sangat tertarik dengannya. Dan bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus 1927 atas nama Residen di Ternate, menyatakan rasa terima kasih kepada Laurens Tanamal.
 Ketika itu Zendeling Van Hasselt sedang cuti ke pulau Jawa, Dia Menulis surat kepadanya, dimana di dalamnya saya bertanya  : “Bagaimana mungkin bahwa sementara Tuan memindahkan saya ke Serui untuk tinggal dan bekerja disana, tetapi Zendeling Bout menyuruh lagi untuk mulai membuka suatu pekerjaan baru. Kadang Laurens Tanamal merasa tidak enak dengan hal ini, karena cara seperti ini dia tidak mendapatkan suatu tempat tugas yang pasti”.
 Beberapa waktu kemudian Laurens Tanamal menerima jawaban dari Van Hasselt, di mana ia antara lain menulis : “Guru yang baik hati, yang menyuruh kau pergi bukanlah tuan Bout, tetapi yang menyuruh kau adalah Tuhan sendiri. Justru itu adalah talenta yang Tuhan berikan kepadamu, supaya dengannya kau dapat mempergunakan sebaik-baiknya untuk melayani orang lain. Pujilah Tuhan dengan segenap hatimu melalui lagu ini :

 “Apa yang Tuhan buat adalah baik semuanya,
Kehendak-Nya adalah bijaksana dan kudus
Percayakanlah jalanmu pada bimbingan tangan-Nya,
Dan dalam kesusahan, Ia adalah harapanku
Ya, Dia adalah Tuhan di atas segala tuan,
Kebijaksanaan-Nya dalam memerintah kekal selamanya”.

Surat ini melunakan hatinya, dan pada bulan Januari 1928 Laurens Tanamal menerima sepucuk surat dari Zending Bout, Ia menjelaskan kepada Laurens Tanamal supaya mempersiapkan diri untuk pindah ke kampung Kurudu, karena kampung Kurudu harus dibuka. Dalam hati Laurens Tanamal tidak merasa keberatan kerana Tuhan yang memanggil dan mengutusnya, sebab itu ia menerima dengan damai sejahtera. Tetapi lain halnya dengan Nyora. Ketika ia membaca surat itu ia sama sekali tidak dapat menerima rencana kepindahan ini. Ia berkata kepada saya “ Guru, kau pergi saja sendirian ke Kurudu, saya tinggal disini dengan orang-orang di Marau “. Ketika ia mengucapkan kata-kata itu sama sekali tidak ada pikiran yang aneh dalam diri Laurens Tanamal tentang kemungkinan lain yang akan terjadi dengan isterinya. Setiap kali ia mengajak isterinya bertukar pikiran tentang rencana kepindahan itu, ia selau saja memberikan jawaban yang sama : “ Saya tidak pergi besertamu” saya belum memberikan harapan sepenuhnya, karena saya telah memutuskan untuk pergi bersama-sama dengan isteri saya ke tempat tugas yang baru.
 Pada saat itu nyora sedang mengandung dan dalam bulan Februari sudah ada tanda-tanda mendekatnya hari untuk nyora melahirkan. Hal mana membuat mereka juga merasa tidak tenang. Pada jam empat pagi nyora melahirkan seorang anak laki-laki. Semuanya berlangsung dengan baik. Tetapi setengah Jam kemudian kelihatannya nyora pucat dan tidak mengatakan sesuatu lagi. Kata-kata terakhir yang Laurens Tanamal dengar dari Nyora adalah : Apakah yang terjadi sekarang dengan saya ?” Lima menit kemudian ia telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, Laurens tidak dapat melakukan sesuatu tindakan apapun untuk membantu isteri tercintanya.
 Sesudah menguburkan nyora di marau, Laurens Tanamal menulis sepucuk surat kepada Zendeling Bout dan memberitahukan kepadanya bahwa pada Tanggal 17 Februari 1928 isterinya telah meninggal dunia. Dan Zendeling Bout menyurati Laurens Tanamal tentang rencana selanjutnya, namun Laurens Tanamal menjawab Surat tuan Bout “ Janganlah kiranya hal itu menjadi rintangan atas panggilan Tuhan, seperti ada tertulis dalam Injil Lukas 9 : 60 : “Biarlah orang mati menguburkan orang mati, tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Injil Kerajaan Allah dimana-mana”. Oleh sebab itu, Laurens Tanamal dengan tegas menyatakan bahwa ia akan segera pergi ke Kurudu untuk membuka pelayanan disana.
Kemudian Laurens Tanamal memesan satu tong semen dan mengubur kuburan dari sang isteri tercintanya. Dan sesudah itu Laurens Tanamal mengantar anaknya yang baru lahir itu, bersama anak perempuannya kakak dari bayi yang baru lahir itu, kepada seorang familynya yang bertugas sebagai Guru di Ansus dan menitipkan mereka di sana.
 Lalu pada tanggal, 20 April 1928 Laurens tanamal berangkat ke Kurudu, Namun belum sampai satu setengah tahun bulan disana, Laurens Tanamal menerima sepucuk surat dari Zendeling Bout dimana Ia memintah ia segera berangkat ke Ansus karena anaknya yang masih bayi sedang sakit. Ia pun berangkat ke Ansus. Setelah beberapa hari disana anak kecil itu pun meninggal dunia. Semuanya ini membuat hatinya sangat sedih. Empat orang anak dan isterinya sudah harus ditinggalkan. Dua orang anaknya meninggal ketika bertugas di Nunfor, satu di Marau di mana ibunya turut dikuburkan disitu, dan sekarang satu lagi di Ansus. Sekalipun demikian semua kejadian ini tidak menjadi alasan baginya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan Allah, sebaliknya ia semakin teguh berpegang pada perintah Allah.
 Setelah pemakaman anak terkasihnya, Laurens tanamal segera berangkat kembali ke Kurudu dengan membawah serta saudara perempuan yang masih kecil. Mereka berdualah yang membantu Laurens Tanamal dalam segala urusan di Kurudu ketika memulai pekerjaan disana.
 “Nama di atas segala nama” Supaya suatu ketika semua jiwa dari tanah yang besar ini menjadi milik Tuhan kita sebelum tiba hari besar di mana Ia akan kembali. Sekarang kita masih hidup di bawah pengampunan dan kesabaran hilang. Ingatlah pada waktu lampau, berharaplah pada masa depan dari kerajaan Allah, karena untuk itu kita semua tidak ada jalan lain”.

Jika aku semakin lelah di jalanku,
Semakin tinggi pula jalanku.
Di mana duri-duri tajam bertumbuh,
Di sana tidak ada jalan lain. Kami mengikuti Dia terus .
Seperti domba mengikuti gembalanya, Melintasi semak
belukar  dan pagar berduri.  (Gezang 217:3)

Tambahan;
Selamat Merayakan HUT (Hari Ulang Tahun) PI (Pekabaran Injil) di Kampung Marau yang Ke-95 th. Pesan Moral “BUKANLAH SUATU KEBETULAN LAURENTS TANAMAL MEMBAWA INJIL KE TANAH INI (MARAU) YANG MERUPAKAN TEMPAT PILIHAN ALLAH, OLEH SEBAB ITU. MARILAH KITA SUJUD MENYEMBAH KEPADA TUHAN DAN BEKERJA JUJUR DI TANAH INI. SAYA MENGAJAK SEMUA UMAT TUHAN UNTUK TETAP MENJAGA KAMPUNG MARAU, TANAH YANG DIBERKATI DAN TANAH PILIHAN ALLAH ”.

Sekian….!!!
Refleksi; Wempi Wombaibabo & Hengky Wombaibabo
Publikasih; Pacejalbo


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

====PERHATIAN===
* Gunakan kata-kata yang baik dan sopan
* Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan kekerasan dilarang keras
* Dilarang Anonymous dan SPAM ! Berkomentarlah yang berkualitas

SUKU DAN SUB SUKU DI SERUI KAB. KEPULAUAN YAPEN

DAFTAR SUKU DAN SUB SUKU DI SERUI  KABUPATEN KEPULAUAN YAPEN PENGERTIAN SUKU Apa itu suku…??? SUKU dalam Kamus Besar Bahasa Indon...